Sabtu, 23 Oktober 2010

IBU

Oleh Ditha Ismira Intania di 20.05
             Hari ini terasa indah dan nyata ketika aku kembali menetap bersama keluargaku. Setelah sekian lama aku menetap di Bandung untuk menyelesaikan kuliahku di salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di Kota tersebut. Tak sedikit berubah rumah ini sejak aku meninggalkannya. Begitu pun dengan kamarku. Aku menatap sekeliling kamarku. Masih sama seperti dulu. Namun setelah sekian lama tidak ditempati olehku, tak terlihat kotor atau pun debu sedikit pun disini. Mungkin karena Bi Inah, pembantu di rumahku, selalu membersihkannya walaupun tidak ditempati.
         Aku keluar dari kamarku dan segera menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Ketika aku sarapan, rumah sudah terasa sepi. Ayahku telah pergi ke kantor ketika embun pagi masih menyelimuti Kota Tasikmalaya ini. Adikku pun telah berangkat ke sekolah dengan diantar Ayahku. Kulihat Ibuku tengah bersiap-siap untuk pergi tenis bersama teman-temannya. Aku menyantap dengan lahap roti isi buatan Bi Inah dengan ditemani segelas susu hangat.
         “Vana, Ibu berangkat tenis dulu, ya,” pamit Ibu padaku.
         “Ya, Bu. Hati-hati!” sahutku.
         Aku lihat penampilan ibuku banyak berubah semenjak kutinggalkan kemarin. Ibuku terlihat lebih segar. Mungkin karena pergaulan Ibu yang semakin hari semakin modern. Dan Ibu juga sekarang sedang giat-giatnya berolahraga. Di mulai dengan tenis, bulutangkis, dan renang Ibu jalani setiap hari.
         Hari ini aku berniat untuk beristirahat saja di rumah atau aku bisa membantu Bi Inah untuk membereskan segala pekerjaan rumah. Ya… itung-itung meringankan bebannya saja.
***
         Sore hari aku hanya bisa mengeluh lemas karena seharian ini aku membantu Bi Inah membereskan rumah seperti mencuci piring, mencuci pakaian, menjemur pakaian, pergi ke Pasar untuk berbelanja, mengasuh adikku yang baru duduk di kelas 2 sekolah dasar, dan masih banyak lagi. Mungkin karena aku belum terbiasa melakukan hal seperti itu makanya aku merasa capek sekali mengerjakannya meskipun sekarang aku sudah beranjak dewasa.
         Aku duduk di sofa ruang keluarga untuk melepaskan semua rasa capekku dengan ditemani segelas jus jeruk segar buatanku. Ketika aku sedang menikmati istirahatku, Ibu pulang dari aktifitasnya seharian ini.
         “Ibu baru pulang?” tanyaku.
         “Ya.”
         “Habis darimana Bu, jam segini kok baru pulang. Gak mungkin kan kalo tenis sampai sore begini?”
         “Iya, tadi Tante Mirna ngajakin makan-makan dulu jadi tadi ibu sama teman-teman Ibu ke rumah Tante Mirna.”
         Begitu enaknya Ibu menjawab seperti itu.
         “Ibu mau mandi dulu, Va.”
         “Ya, Bu.”
         Sejak tadi aku membantu Bi Inah, aku sempat menanyakan tentang keseharian Ibu. Aku sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kenyataan Ibuku saat ini seperti itu. Apa yang ada difikirannya saat ini? Sehingga Ibu tiap hari keluar rumah untuk urusannya sendiri. Aku bisa memahami apabila Ibu tidak sampai tiap hari keluar rumah.
         Apa sekarang Ibu sudah egois dengan kepentingannya sendiri? Apa Ibu tidak memikirkan bahwa ada yang lebih penting dari itu? Adikku, Dirham. Itu yang lebih penting. Dirham masih butuh perhatian dan kasih sayang dari seorang Ibu. Tapi apakah dia bisa mendapatkannya dengan melihat kenyataan Ibu sendiri sibuk dengan urusannya yang seharian tak pernah ada di rumah.
         Aku diam dengan penuh pertanyaan dalam otakku. Aku beranjak dari tempat dudukku hendak mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi memenuhi fikiranku. Aku menuju kamar Ibu.
         Setelah aku sampai di depan pintu yang tidak tertutup rapat itu, aku melihat Ibu sedang menerima telepon dengan asiknya. Sebelum aku masuk kamarnya, aku hendak mendengarkan pembicaraan Ibuku dengan si penelepon. Tampaknya Ibu menelepon seseorang yang bukan hanya teman melainkan lebih dari teman biasa. Aku tahu bagaimana Ibu mengobrol dengan teman-teman biasanya. Tapi mengapa kali ini Ibu beda sekali? Aku tak mau menuduh apa pun dulu tentang Ibu. Aku segera masuk ke dalam kamar ketika Ibu masih menelepon. Ketika aku masuk, entah mengapa Ibu segera memberi isyarat kepada si penelepon untuk menutupnya dahulu. Aku semakin penasaran, siapa yang menelepon Ibu? Sampai Ibu pun terlihat agak canggung ketika aku berada tepat disampingnya. Siapa orang itu? Akhirnya Ibu menutup teleponnya dan meletakan HP nya di atas meja.
         “Ada apa, Va?” tanya Ibu.
         Aku terdiam sejenak, hendak menyusun pertanyaan yang akan ditanyakan pada Ibu.
         “Vana, kok diam. Ada apa?” tanya Ibu kembali.
         “Sebelumnya aku mau Tanya Bu, apa aku boleh tahu siapa yang barusan telepon?”
         “Itu teman Ibu.”
         “Cuma teman, Bu? Aku lihat nada bicara Ibu tidak seperti biasa saat Ibu menelepon teman-teman Ibu?”
         “Itu teman biasa kok, Va.”
         “Teman biasa kok kaya yang mesra gitu ngomongnya.”
         “Ya ampun, Va… kamu ini ngomong apa sih?”
         “Bu… aku cuma gak mau aja Ibu berpaling dari Ayah. Ibu jangan menganggap aku gak tahu dan gak ngerti ya, Bu. Yang barusan itu laki-laki kan?”
         “Ya, memang yang barusan itu teman laki-laki Ibu. Itu teman lama Ibu ketika Ibu masih SMA. Bisa dibilang sahabat. Kita udah lama gak bertemu. Dan pada saat Ibu seminar kemarin, kebetulan dia juga ikut seminar,” terang Ibu.
         “Gak mungkin, Bu. Kalau cuma sahabat Ibu kok kaya gitu. Apa sih yang ada difikiran Ibu saat ini? Emang Ayah pernah seperti Ibu begini?”
         “Kamu gak tahu, Va. Bagaimana Ibu sakit hati waktu lihat Ayah mengobrol dengan perempuan saat kita hendak pergi ke Batu Karas.”
         “Aku tahu Bu… Ibunya aja yang terlalu berlebihan. Sekarang, apa Ayah tahu sama laki-laki yang sering menelepon itu yang Ibu anggap sebagai sahabat. Aku yakin Ayah gak tahu. Ya kan, Bu? Apa perlu aku yang kasih tahu Ayah, Bu?” emosiku semakin tak tertahankan.
         “Sudahlah kamu jangan ikut campur sama urusan Ibu. Ibu itu udah gede. Ibu tahu mana yang benar dan mana yang gak benar. Ibu gak perlu nasihat dari kamu.” sahut Ibu.
“Siapa yang memberi nasihat? Aku cuma menyadarkan Ibu aja. Ibu bersikap kayak gitu itu dibelakang Ayah. Itu sama saja Ibu menusuk Ayah dari belakang. Kalau Ayah sampai tahu, dia pasti kecewa berat, Bu. Sama seperti aku. Ibu tidak memikirkan, sikap Ibu yang seperti itu akan membuat orang yang ada di sekitar Ibu itu kecewa, sakit hati, atau bahkan marah! Menurutku sikap Ibu yang seperti itu sudah keterlaluan, Bu. Sudah tidak bisa di anggap wajar.” aku menatap Ibu tajam.
Ibu hanya terdiam membisu.
“Bu… Ibu sering bertemu dia kan? Siapa sih orang itu? Kenapa sih Ibu jadi kayak gini? Apa sih yang membuat Ibu seperti itu? Aku sungguh tak habis fikir, Bu. Bisa-bisanya Ibu seperti itu.” aku semakin menggebu-gebu untuk mengungkapkan semuanya.
Ibu semakin larut dalam kebisuannya.
“Maafkan aku, Bu, aku telah lancang berbicara ini pada Ibu! Aku hanya butuh kejujuran dan kesadaran Ibu saja, Bu. Tolong Ibu mengerti!” Aku semakin menggebu-gebu untuk mengungkapkan semuanya.        
         Ibu tidak menjawab semua pertanyaanku. Ibu beranjak dari tempat duduknya yang berada persis disampingku. Ibu mendekati jendela kamar dan menerawang jauh keluar. Suasana hening seketika. Hanya suara dentangan jam dinding saja yang terdengar. Aku menatap Ibu, Ibu masih saja terdiam. Entah apa yang difikirkannya saat ini. Masih ada pertanyaan dalam benakku yang belum aku ungkapkan pada Ibu.
         “Bu… boleh aku bertanya lagi?” aku memecahkan keheningan.
         Ibu hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.
         “Belakangan ini Ibu sering keluar hampir tiap hari dan pulang sampai sore hari. Apa Ibu tidak ingat sama orang rumah?”
         “Ibu pergi juga bukan apa-apa, Va. Ibu pergi karena memang Ibu ada keperluan dan gak ada salahnya kan Ibu berolahraga?” jawab Ibu.
         “Tapi Ibu tidak memikirkan apa yang terjadi bila Ibu keseringan pergi keluar dan hampir seharian.”
         “Apa maksudmu?” kali ini Ibu menatapku tajam.
         “Aku kasihan pada Dirham, Bu. Dia itu masih kecil, masih butuh perhatian dan kasih sayang dari seorang Ibu, masih butuh tuntunan, Bu. Apalagi Dirham itu melakukan apa-apa masih belum bisa sendiri. Jadi aku mohon Ibu jangan hanya mengandalkan Bi Inah saja. Dirham itu butuh Ibu. Tadi saja aku dengar waktu Dirham mau mandi, dia sampai manggil-manggil Ibu. Katanya Dirham pingin sama Ibu. Aku kasihan Bu melihatnya. Apa Ibu juga berfikiran seperti aku, Bu?”
         Lagi-lagi Ibu terdiam. Dan kembali menerawang keluar.
         “Bu… masih banyak yang Ibu perlu lakukan di rumah selain berpergian keluar dengan urusan-urusan Ibu itu. Aku rasa sekarang Ibu sudah beda dengan Ibu yang dulu. Apa Ibu masih ingat. Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Ibu selalu mengantarku pergi ke sekolah dan dengan setianya Ibu menungguku dengan sabar sampai aku selesai belajar dan pulang bersama Ibu. Apa Ibu ingat itu?”
         Ibu masih saja terdiam.
         “Tiap hari Ibu selalu menemani hari-hariku. Ibu selalu sabar mengajarkan aku pelajaran. Ibu selalu membantu aku mengerjakan PR, hingga aku bisa lulus S1 seperti sekarang ini. Tapi apa yang aku alami dulu, sekarang mungkin tak dapat dialami oleh Dirham. Apa Ibu yakin dengan masa depan Dirham? Tolong Ibu fikirkan ini dengan baik-baik, Bu! Aku sangat kecewa, Bu, sama sikap Ibu belakangan ini. Apa Ibu sadar akan hal itu?” air mataku mulai menetes.
         Ibu mendekatiku dan membelai lembut rambutku dengan mata yang berlinang air mata.
         “Ibu tahu Ibu salah. Ibu terlalu egois buat Dirham. Sekarang Ibu sadar apa yang dilakuin Ibu sekarang ini tak baik buat masa depan Dirham. Dan Ibu sadar bahwa sifat Ibu yang seperti itu tidak baik. Maafkan Ibu, Va?”
         “Syukurlah jika Ibu sudah sadar dengan apa yang dilakukan Ibu selama ini. Aku mengerti, Bu. Tak perlu meminta maaf padaku. Aku tahu Ibu khilaf.”
         “Terima kasih banyak, Vana. Kamu membuat Ibu sadar. Ternyata kamu sudah besar dan dewasa, ya?” senyum Ibu terlihat di bibirnya.
         Aku menghambar segera memeluk Ibuku erat-erat.
         “Vana sayang Ibu,” pelukanku semakin erat.
         “Ibu juga sangat menyayangimu, Va.”
         Beberapa detik aku dan Ibu berpelukan dan pelukan itu lepas ketika Dirham masuk ke kamar. Kita saling berpandangan. Seketika itu Ibu memeluk Dirham dan memelukku dengan hangat sambil mengucapkan, “Ibu sayang kalian, kalian anak-anak yang baik dan Ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti kalian.”
         Aku terharu mendengarkan pengakuan Ibu seperti itu. Dirham terdiam dengan menatap Ibu.
         “Vana dan Dirham juga sangat menyayangi Ibu begitu juga Ayah. Ibu dan Ayah adalah orang tua paling baik bagiku dan Dirham. Dan tidak ada yang bisa menggantikannya, siapa pun itu dan apa pun itu. Terima kasih atas semua yang telah Ibu dan Ayah berikan terhadap kita,” Ibu semakin erat memelukku dan Dirham.
         Suasana kali itu sangat mengharukan. Walaupun Ayah tidak ada karena harus lembur kantor tetapi tidak menutup kemungkinan kita dapat merasakan kehangatannya. Semoga saja Ibu tak kembali dengan sikapnya yang seperti itu lagi.

-selesai "Ditha"-

0 komentar:

Posting Komentar

 

Exemplary Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review